Mengenal Sosok Moh. Fahruroji Pejuang GKB Desa Cenang

Brebes – Perjuangan GKB bagian dari jihad kebodohan, jangan jangan ada kata berhenti dalam berjuang harus sampai titik darah penghabisan, apalagi sebagai seorang santri, pengabdian di masyarakat harus diwujudkan, terlebih lagi persoalan meningkatkan kualitas pendidikan untuk generasi penerus bangsa ini. Maka kita harus selalu berkhidmah kepada ahli ilmu, termasuk berjuang dalam mensukseskan Gerakan Kembali Bersekolah sebagai sarana tidak meninggalkan generasi lemah. Karena Anak Tidak Sekolah (ATS) yang tidak bersekolah itu bermakna kita ini telah mewariskan generasi lemah, oleh karena itu gerakan dan sukseskan.

Ungkap Moh. Fahruroji, pejuang GKB dari Desa Cenang, Kecamatan Songgom, Kabupaten Brebes saat mengikuti kegiatan workshop KIP/PIP di Aula Dinas Pendidikan Pemuda Olahraga Kabupaten Brebes, Rabu (21/10/2020).

Sosok Fahruroji ini adalah pendiri Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Maju Bersama di Desa Cenang, Dia juga diberikan amanat menjadi Ketua Forum Masyarakat Peduli Pendidikan (FMPP) Desa Cenang, dimana amanah yang diembannya selain sebagai guru madrasah dan guru ngaji bagi anak-anak di desa, ada tugas yang cukup berat namun menjadi ringan karena mendapatkan dukungan dari semua pihak didesanya, tugas FMPP yakni memastikan data ATS sudah direkonfirmasi, mengembalikan ATS ke Sekolah, mendampingi ATS baik di rumahnya maupun saat ada masalah di sekolahnya, dan menggalang dana orangtua asuh atau dana abadi umat bidang pendidikan ditingkat desa.

Awal Berjuang di FMPP
Pergerakannya pada tahun 2016 FMPP desa Cenang mengembalikan 5 anak. 3 dari SD dan 2 SLTP, selama setahun 5 anak ini selalu mendapat pendampingan. Pendampingan diantaranya memberikan uang saku setiap hari.  Tahun 2017 pemdes Cenang melaksanakan pendataan SIPBM yaitu Sistem Informasi Pendidikan Berbasis Masyarakat. Data SIPBM munculah data ATS (anak tidak sekolah) sejumlah 230 anak dari berbagai jenjang, bersama Pemdes Cenang FMPP mulai bergerak bermodal data SIPBM yg lengkap by name by addres. Kemudian mencoba bergerak mengunjungi anak-anak ATS agar mau kembali bersekolah, setiap hari menyempatkan berkunjung ke orangtua dimana ada ATS dari data SIPBM tersebut, dari mulai bujukan, rayuan, nasihat, dan motivasi disampaikan.

Tahun ajaran baru 2017 akhirnya ada 32 anak yang siap kembali bersekolah. Mulailah ada titik terang bahwa perlu ada kerjasama multisektor, kaitan pendanaan FMPP menjalin hubungan dengan donatur, ada donatur desa dan ada donatur perantau /luar negri.kaitan denga sekolah FMPP bekerjasama dengan Lembaga sekolah dan pondok pesantren. Selain merayu dari rumah ke rumah keluarga ATS, dirinya juga melakukan sosialisasi dengan menghadirkan orangtua ATS dengan kerjasama Pemerintah Desa, dan ini ternyata menjadi pemicu dari salah satu keberhasilan anak ingin kembali bersekolah.

Untuk memecahkan persoalan pendidikan di desa, lalu bersama dengan Pemerintah Desa menyepakati dengan mendirikan PKBM Maju Bersama, dengan pengelola PKBM adalah para pengurus FMPP, Ada 25 siswa masuk paket B dan Tahun 2018 SK FMP berakhir masa jabatan pengurusnya,melihat adanya keberhasialannya maka Imam Rifai saat itu menjadi Kades Cenang, mempercayakan kepengurusannya berlanjut samapai tahun 2020.

Anggaran dana dan Kemitraan
Gaung bersambut antara FMPP Desa dengan Pemerintah Desa serta dukungan dari kerjasama pihak ketiga, selain Pemerintah Desa mengalokasikan anggaran pendidikan sedikit meningkat, juga Desa Cenang menjadi salah satu desa Intervensi kerjasama Pemerintah Kabupaten-UNICEF-Unnes Semarang.

Seiring perjalanan waktu, sudah ada beberapa kerjasama antara FMPP Desa dan PKBM Maju Bersama dengan Sekolah yang ada di Kabupaten Brebes dan Kabupaten Tegal terutama aspek kesinambungan program dan dukungan penganggaran sekolah bagi ATS. Sekarang di Cenang sudah ada Gedung Pembelajaran PKBM di Desa, sudah ada 10 laptop untuk belajar komputer gratis bagi warganya, sudah ada mobil antar jemput siswa dan siswi ke sekolah di Brebes dan Tegal.

Seperti apa Sosok Moh.Pakhruroji
Jabatan sekarang adalah Ketua FMPP, dan di sekolahnya menjabat Kepala Sekolah SD Maarif NU 02 Idharul haiyi, selain itu, ada kegiatan lain sebagai guru MTs, Guru Madin, guru ngaji, didesa juga sebagai pengurus masjid, pengurus NU, pengurus jamiahan. Kegiatan kesehariannya begitu padat untuk kemaslahatan Umat. Keluarganya” satu istri sebagai ibu rumah tangga dan mempunyai 5 anak. Anak pertama Ahmad Abdul Aziz mahasiswa STIA Brebes semester 3 PAI, Anak kedua Siti Sriwahyuningsih mahasiswa UNNES Semarang semester 5 sastr Indonesia, Anak ketiga Rihan Azmiyati siswi MANU Putri kls 12 Buntet Pesanttren, Anak keempat Muhaemin Azhar kls 5 SD Maarif NU 02, Anak kelima Anissaussaadah kls 3 SD Maarif NU 02.

Inspirator ATS menurut Pahruroji 
Sosok Tomi adalah anak ke 9 dari 10 bersaudara, orang tuanya bernama Cayan dan ibunya bernama Tinah tinggal di RT 003 RW 008 Desa Cenang Kecamatan Songgom Kabupaten Brebes, Tomi adalah anak GKB tahun 2016, ia putus sekolah kls 3 SD mau naik kls 4, karena punya hambatan dalam berpikir maka ia putus sekolah.

Hampir 2 tahun Tomi putus sekolah, awalnya kami mencoba mengajak untuk kembali ke sekolah, ia langsung lari tidak mau alasannya malu dan takut pada gurunya. Dengan pendekatan yang humanis dan terus menerus akhirnya Tomi bersedia kembali bersekolah. Selama putus sekolah hampir tiap hari Tomi bermain ke sawah atau sungai bersama teman yg tidak sekolah.

Dengan iming-iming akan mendapat uang saku Tomi bersedia masuk ke Sekolah SD Ma’arif NU 02, saat itu FMPP mendapatkan dana CSR dari FMPP kabupaten Brebes. Karena masuk kategori ABK Tomi mengalami kesaulitan dalam pembelajaran, terutama saat belajar membaca dan menulis.Dengan kesabaran dan ketekunan para guru Tomi akhirnya tahun 2020 lulus dari SD.

Dengan segala keterbatasan Tomi awalnya enggan untuk melanjutkan, namun berkat dukungan dan teman-temannya Tomi mau diajak untuk melanjutkan sekolah di SMP Dharma Bakti Slawi.Kami dampingi secara intensif dan kesabaran agar Tomi semangat dalam belajar.

Hampir 3 bulan Tomi bersekolah dan mondok /ngaji kini banyak sekali perkembangannya.Selain mulai lancar menulis dan membaca juga rajin mengaji, kini Tomi juga dapat bergaul dengan teman dari desa lain. Tomi sangat bersemangat dan menjadi kebanggaan orangtuanya. Alhamdulillah Tomi mau sekolah sambil mondok menjadi santri, semoga kelak menjadi anak yang soleh dan berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.

Share on facebook
Facebook
Share on email
Email
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *