Pendampingan ATS GKB Harus Rutin Dilakukan FMPP

Keberhasilan dalam program Gerakan Kembali Bersekolah salah satunya adalah melakukan pendampingan Anak Tidak Sekolah (ATS) yang kembali bersekolah. Pasalnya tidak semua anak yang sekolah itu akan mulus 100 persen bersekolah, terkadang ada juga anak yang sudah dikembalikan ke sekolah, lalu baru beberapa hari kemudian motivasi turun, lalu tidak mau kembali ke sekolah.

Satu sisi terkadang pihak sekolahnya menginformasikan terlambat, sisi yang lain anaknya bolos atau putus lagi lalu diam-diam tidak memberitahukan pendamping FMPP Desa, sehingga bisa saja ketahuan dalam beberapa hari, bisa saja sudah dua minggu atau sebulan ada informasi bahwa ATS yang bernama xxxx ternyata tidak sekolah lagi, dan sekarang dibawa oleh pamannya ke jakarta untuk bekerja jadi peladen atau buruh bangunan atau lainnya.

Terkadang juga anak ini terbawa arus dengan pergaulan dengan temannya, karena ada temannya yang ikut anak punk, lalu mereka ikut arus temannya dan melangkah beberapa hari tanpa memberitahukan kepada kedua orangtuanya, sehingga orangtua juga terkadang bingung, kenapa beberapa hari ini anak tidak kembali ke rumahnya, apalagi jika kemudian kedua orangtuanya dalam kondisi broken home, anak terkadang tidak mendapatkan kasih sayang, dia ikut dengan simbahnya, dan simbahnya sendiri sangat terbatas ekonominya.

Banyak ragam alasan ATS GKB lalu tidak betah sekolah, karena awalnya mereka itu berhenti selama beberapa tahun, wajar kalau kemudian bawaan bebas bermain, tidak ada aturan disiplin waktu, dan aturan yang mengikatnya menjadikan anak tersebut juga merasakan dampaknya ketika jadwalnya sangat berbeda pada saat sudah masuk sekolah.

Bagi orangtuanya mungkin sangat mendukung bahwa anaknya bisa sekolah lagi, ngapain di rumah kalau hanya bermain saja, namun bagi anaknya juga menjadi persoalan baru, gara-gara sekolah jadinya ada ikatan hidup, semua serba ada aturan, biasanya pagi bisa tidur atau bermain di rumah temannya, namun saat sudah kembali bersekolah, maka pagi harus siap-siap membawa buku, tas, dan naik sepeda atau naik kendaraan umum menuju ke sekolah.

Disinilah FMPP punya satu seksi khusus pendampingan anak, dengan harapan mereka bertugas sebagai mediator antara anak, orangtua ATS, dan juga pihak sekolah, termasuk juga dengan pihak Pemerintah Desa, kenapa penulis mengatakan Pemerintah Desa, karena persoalan penanganan ATS juga menjadi tanggungjawab dari Desa, dimana setiap desa harus memastikan semua warganya yang berusia 7-18 tahun itu bisa mengenyam pembelajaran di sekolah.

Penulis : Bahrul Ulum ( Ketua FMPP Kabupaten Brebes)

Share on facebook
Facebook
Share on email
Email
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *