Windi Anak ATS GKB Pepedan, Selain Berprestasi Juga Berorganisasi

Pepedan – Ada kisah menarik dari Anak Tidak Sekolah Kembali Bersekolah di Desa Pepedan, Kecamaan Tonjong, Kabupaten Brebes. Sebuah kisah inspirasi ini menjadi sangat menarik tentunya untuk memberikan motivasi bagi semua ATS di Indonesia. Windi Tia Utami (16th) di kenal oleh teman sebaya dipanggil Windi, Dia itu anak sulung dari pasangan M. Ali Aldian dan Dewi Wijayanti, adiknya Kholidi Asadil Alam saat ini duduk di kelas 2 MI Pepedan.

Ayah Windi sejak kecil hingga berkeluarga tinggal di pepedan, sedangkan ibunya berasal dari sebuah desa di kaki gunung Slamet desa Batu Agung Tegal. Keluarga kecil Windi tinggal disebuah rumah berukuran sekitar 8×6 m, rumah waris dari peninggalan kakeknya yang berlokasi di RT/RW 05/02 Desa Pepedan. Kondisi rumahnya tergolong tidak layak huni sehingga tercatat dalam daftar rumah tidak layak huni yang menjadi prioritas memperoleh bantuan rehab rumah tidak layak huni. Keluarga Windi juga belum menerima bantuan sosial seperti PKH dan BPNT dan selalu berusaha untuk bekerja dengan keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Windi adalah salah satu dari pelajar di Desa Pepedan yang mendapatkan dana GKB, sumber dana awal diperoleh dari  Dana Desa, dengan sekolah yang ditempuh adalah sekolah SMP Negeri 1 Tonjong di kelas 9 (2018/2019). Setelah lulus pihak Desa menyarankan agar melanjutkan saja ke jenjang berikutnya di lembaga formal, maka windi memilih melanjutkan ke SMKN 1 Tonjong, dan diterim menjadi siswa di sekolah tersebut. Windi secara prestasi patut diacungkan jempol, walaupun keluarganya sangat sederhana dan serba terbatas ekonomi, namun saat sekolah SMP anak ini sudah berprestasi, pada kelas 7 Windi hanya meraih rangking 2, tahun berikutnya dengan semangat belajar yang terus ditingkatkan ia berhasil meraih rangking pertama dan masuk paralel sekolah dua tahun berturut-turut atau pada kelas 8 dan 9, bahkan ia juga menjadi salah satu siswa dengan nilai terbaik dalam ujian nasional tingkat SMP, selain itu, ia juga sempat menjadi duta SMPN 1 Tonjong untuk mengikuti OSN IPA di tingkat kecamatan.

Saat menjadi duta OSN IPA, ternyata Windi berhasil menjadi juara 1 dan mewakili kecamatan Tonjong mengikuti OSN IPA tingkat Kabupaten dan kali ini berhasil menjadi juara 3 sekaligus terpilih menjadi Duta OSN Tingkat Kabupaten dengan mengikuti lomba OSN IPA di tingkat provinsi, tetapi belum berhasil meraih juara. Berbekal prestasi yang cukup baik itu, remaja yang gemar membaca buku dan debat itupun begitu semangat untuk dapat melanjutkan sekolah ke jenjang selanjutnya.

Sebagai salah satu desa intervensi kegiatan pendidikan untuk penanganan anak tidak sekolah (PATS) desa Pepedan telah mengembalikan siswa kembali bersekolah sebanyak 9 siswa yang terdiri dari siswa jenjang SMP/sederajat sebanyak 2 siswa dan jenjang SMA/paket C sebanyak 6 siswa. Windi Tia Utami adalah salah satu siswa yang dikembalikan oleh FMPP Desa Pepedan, Windi sapaan akrabnya adalah siswa lulusan dari SMPN 1 Tonjong tahun pelajaran 2018/2019. Setelah dinyatakan lulus dari jenjang SMP windi sangat bersemangat untuk melanjutkan ke SMKN 1 Tonjong, sekolah yang dari sejak kelas 7 SMP menjadi sekolah impiannya saat nanti masuk jenjang Sekanjutnya.

Tentunya jika anda punya anak dengan prestasi seperti Windi akan senang bukan, padahal Windi ini adalah ATS GKB yang punya semangat belajar tinggi, padahal latar belakang keluarganya dari Ayah dan ibu Windi bekerja dengan menjadi pencari pasir di sungai dekat rumahnya, setiap hari dari pagi hingga sore hari keduanya mengumpulkan pasir untuk dijual ke pengepul. Dari hasil mencari pasir tersebut belum dapat mencukupi berbagai kebutuhan yang semakin banyak, ditambah lagi dengan mulai bersekolahnya Windi di MI Pepedan tentu ada tambahan biaya sekolah yang harus dipenuhi kala itu.

Windi Tetap Berorganisasi

Diusia Anak saja, Windi selain berprestasi, ia juga suka dengan berorganisasi,  bermain dengan teman sebaya, sekolah dengan sungguh-sungguh, mengaji di majlis taklim dan membantu orangtuanya untuk membersihkan rumahnya bersama adiknya. Sesekali dia juga ikut bersama orangtuanya ke sungai untuk mencari pasir. Windi mulai bersekolah tahun 2010 di MI Pepedan dan berhasil meraih prestasi yang baik dengan menjadi rangking satu dan berhasil mempertahankannya dari kelas 2 sampai kelas 6 MI hingga di Jenjang Sekolah SMP. Windi punya cita-cita ingin jadi Arsitek di Kampus Universitas Gajahmada Yogyakarta, di pendidikan sekarang ini, dia juga menjadi salah satu pengurus OSIS dan Pramuka SMKN 1 Tonjong serta terpilih sebagai duta pelajar anti narkotika tingkat Kecamatan Tonjong. Tidak hanya sampai disitu, ia juga aktif mengikuti kegiatan yang ada di desanya, Windi terpilih menjadi ketua forum anak desa Pepedan (FANDAN) yang pertama dan juga ikut organisasi bersama remaja di Desa, yakni sebagai sekretaris ikatan remaja mushola Baithul Istiharoh, serta ia bersama remaja desa lainnya aktif sebagai aktivis literasi desa Pepedan yang bergerak dalam upaya meningkatkan minat baca anak-anak di desa.

Namun saat semangat dan harapan itu sedang tinggi-tingginya keluarga kecilnya justru didera masalah yang cukup pelik, tanpa ia tahu secara jelas penyebabnya kedua orangtuanya berselisih hebat dan ibunya memutuskan untuk pergi meninggalkan ayah, Windi dan adiknya. Kondisi tersebut sangat membuat syok Windi dan keluarganya, ia sempat terpuruk dalam kesedihan yang membuatnya tidak semangat lagi dalam belajar. Masalah tidak sampai disitu saja, usaha yang dilakoni sang ayah juga mengalami masa-masa sulit yang memaksa sang ayah harus beralih profesi menjadi buruh bangunan, kondisi tersebut berdampak juga pada keuangan keluarga yang memburuk. Saat itu, bertepatan dengan tahun ajaran baru yang bersamaan dengan kelulusan Windi dari SMP dan berharap dapat melanjutkan ke jenjang selanjutnya, tetapi saat itu sang adik juga sudah mulai masuk sekolah sehingga memaksa sang ayah mengambil satu keputusan yang sulit. Sang ayah memberitahukan kepada Windi bahwa ia sudah tidak sanggup lagi jika harus membiayai 2 orang anaknya sekaligus, sang ayah meminta kepada Windi sebagai anak pertamanya untuk sementara tidak bersekolah dulu agar ia bisa fokus membiayai sang adik sekoalah di Mi Pepedan.

Prestasi yang telah dicapai Windi ternyata belum dapat membuat keluarganya harmonis kembali, sang ibu yang telah meninggalkan mereka kini mengajukan perpisahan kepada ayahnya, dan setelah proses persidangan yang panjang akhirnya hakim memutuskan perceraian dari kedua orangtuanya. Sungguh satu pukulan keras bagi seorang gadis muda yang sedang memupuk cita-citanya. Kini ia dan adiknya harus menerima kenyataan ditinggal sosok ibu yang sekian lama sangat mereka rindukan kehadirannya. Kini windi dan adiknya harus bergantung pada sosok ayah yang bekerja sendirian untuk memnuhi kebutuhan mereka, perasaan sedih, kecewa menghiasi hari-harinya. Tetapi Windi sadar bahwa jika ia terus tenggelam dalam kesedihan dan rasa kekecewaan maka harapan dan cita-citanyalah yang akan menjadi korban, ia tidak mau mengecewakan ayah, adik, FMPP serta semua orang yang sudah mendukungnya hingga bisa sampai pada titik ini.

Windi mencoba melupakan permasalahan yang ada dikeluarganya dengan lebih rajin belajar dan mengajari adiknya, ia juga aktif mengikuti berbagai kegiatan yang ada di desa agar ia bisa bangkit kembali untuk menggapai cita-citanya menjadi arsitek kelak. Ia sadar jika ia hanya menangisi keadaan tanpa ia berusaha untuk bangkit maka ia akan mengecewakan semua orang yang mendukungnya, ia juga tidak mau bantuan yang telah ia terima berakhir tanpa ada hasil yang diraih. Selain GKB Windi juga pernah memperoleh bantuan pendidikan dari PT. KAI dan sumbangan dari masyarakat desa. Ayah Windi dalam sesi kunjungan rumah siswa GKB menyampaikan rasa syukurnya atas bantuan yang anaknya terima sekaligus juga memberikan semngat untuk para orangtua untuk selalu bekerja keras agar anaknya bisa bersekolah, “alhamduliah anak saya bisa sekolah kembali, saya sudah berusaha membiayai kedua anak saya tetapi ternyata belum bisa mencukupi. Bantuan dari GKB ini sangat berarti bagi kami karena jika GKB tidak ada mungkin saat ini anak saya entah sudah bekerja atau menjadi pengangguran. Kepada para orangtua saya juga berpesan untuk selalu semngat dalam mencari nafkah agar anak-anak kita bisa bersekolah sampai setinggi-tingginya”. Begitu pak Ali sampaikan kepada FMPP.

Sebuah perjalanan hidup nan inspiratif dari seorang anak desa yang memiliki cita-cita tinggi, ditengah segala keterbatasan dan permasalahan yang ada Windi mampu mengambil hikmah dan bangkit untuk maju mengejar apa yang ia cita-citakan. Satu motto yang selalu ia tanamkan sebagai prinsip hidupnya bahwa ia percaya “siapapun bisa jadi apapun”. Sebuah kalimat singkat namun sarat makna, melalui motto tersebut ia ingin menyampaikan sebuah pesan kepada teman-teman sebayanya bahwa siapapun kita, dari manapun kita berasal dan bagaimanapun kondisi keluarga kita, kita harus yakin bahwa dengan semangat, kerrja keras dan kesabaran kita dapat menjadi apapun yang kita impikan. Satu hal yang dapat kita ambil dari kisah hidup Windi, bahwa hidup adalah sebuah perjuangan, dan perjuangan itu bagimana akhirnya adalah kita sendiri yang menentukan, jadi semangat, kerja keras dan sabar adalah hal yang harus kita lakukan dalam menjalani kehidupan.

Penulis : Ade Nurdiyan Sekretaris Desa Pepedan Editor Bahrul Ulumِ

Share on facebook
Facebook
Share on email
Email
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.